Aksi Bela Rakyat 121: Rakyat Tidak Perlu Dibela


Kemarin posting tulisan yang berjudul Edisi Aksi Bela Rakyat 121: Mahasiswa, Riwayatmu Kini. Ada pembaca yang berkomentar di fans page bahwa enak ya pakai beasiswa di zaman sang mantan sampai bisa beli kulkas, hp dan laptop? Dia protes karena dalam tulisan itu saya dulu mendemo pemerintah sebelumnya dalam bentuk artikel di Facebook bukan dengan turun ke jalan. Membaca komentar itu nafas saya langsung tersangkut. Wkwkwkwk.

Heeeii, mana ada beasiswa yang dikasi pemerintah yang nilainya bisa digunakan beli laptop, hp, kulkas, ditabung dan traktir teman-teman di Fitsa Hats? Beasiswa pemerintah, sekali cair langsung habis. Boro-boro ditabung, beli laptop saja tidak cukup apalagi membiayai biaya operasional kuliah per semester!

Beasiswa dari pemerintah yang nilainya paling banyak itu beasiswa LPDP kalau tidak salah. Tapi di masa saya, beasiswa LPDP belum ada. Lho saya dapat beasiswa darimana? Ya dari perusahaan swastalah. Hanya perusahaan swasta yang mampu memberikan beasiswa dengan nilai fantastis, bukan pemerintah. Tentu dengan proses seleksi yang cukup panjang dan melelahkan.

Nah, adik-adik mahasiswa yang lagi aksi bela rakyat, lebih baik kalian minta kebijakan kepada pemerintah untuk menambah kuota penerima beasiswa atau membesarkan anggaran untuk pendidikan daripada kalian demo masalah kenaikan harga. Agar orangtua kalian tidak perlu jual sawah,  rumah dan cincin nikah buat biaya kuliah, beli laptop dan gadget buat kalian. Bereskanlah urusan kalian dulu baru membereskan masalah nasional. Jika uang kuliah saja belum mampu kalian bayar sendiri, tidak perlu sok jagoan di jalan dengan mengatasnamakan bela rakyat. Karena rakyat saat ini benar-benar tidak perlu dibela.

Bahkan saat ini rakyat sangat ikhlas menyumbang untuk pembangunan. Buktinya? Lihat saja keberhasilan Tax Amnesty di Indonesia. Mau bukti lagi? Lihat saja dalam pilkada dimana rakyat yang menyumbang biaya kampanye untuk kandidat yang benar-benar mau memperjuangkan rakyat. Jadi rakyat mana yang kalian bela? Rakyat sekarang rata-rata mampu. Jika ada yang mengaku-ngaku susah, itu karena keinginan mereka selalu naik dari hari ke hari tapi kemampuan dan kualitas mereka terus menyusut atau malah tidak mengalami peningkatan.

Jika kalian mengatasnamakan membela rakyat golongan bawah, sebelum kalian turun ke jalan, pemerintah jauh-jauh hari sudah blusukan ke pemukiman mereka. Infrastruktur mulai dibangun agar mereka juga bisa merasakan kehidupan yang adil dan berkeprimanusiaan di tanah air tercinta. Pemerintah mulai membangun pembangkit listrik secara besar-besaran, akses ke pemukiman mulai diperlebar dan dipermulus, tanah gersang mulai disuburkan dan seterusnya.

Saya ingat persis cerita senior di kampus, seorang alumni teknik. Dimana setelah lulus ia ikut proyek pengadaan pembangkit listrik di pelosok-pelosok. Mereka susah payah menjinjing kabel yang berat dengan berjalan kaki mendaki gunung, melewati pematang sawah dan sungai, sampai pernah mereka jatuh ke persawahan karena sulit menjaga keseimbangan. Dia bercerita bahwa orang-orang di pelosok itu uangnya banyak tapi tidak tahu mau diapakan. Nah…

Makanya dapat berapa boklam lampu di rumah mereka saja sudah membuat mereka senang bukan main. Sementara kita di sini, mati lampu berapa jam saja sudah mengumpat PLN dan serasa dunia sudah mau kiamat.

Sampai teman saya ini menjadi benar-benar tidak tahu mau bilang apa lagi, ia meneteskan air mata melihat kegirangan warga atas kenikmatan hidup yang mungkin bagi kita di sini bukanlah apa-apa. Tunggu, saya lap airmata dulu. Ia merasa terharu sudah bisa membantu membawa secercah cahaya di malam hari bagi mereka yang sudah lama hidup dalam kegelapan. Lalu mengapa kalian tidak berpikir segera lulus dan mengikuti jejak para senior untuk membangun negeri? Atau cita-cita kalian ingin duduk di bangku para pejabat? Sementara Jokowi saja yang nyata-nyatanya seorang presiden lebih banyak bertahtakan pemukiman dan jalanan.

Kenaikan harga benar-benar sama sekali tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan kelas bawah. Karena hidup mereka tidak terlalu rumit. Cukup makan saja sudah menjadi kemewahan tersendiri. Mereka tidak pusing dengan habisnya kuota internet apalagi pusing dengan kekacauan di negeri yang suka bawa-bawa agama. Toh merasakan listrik saja mereka tidak tahu bagaimana rasanya, apalagi nonton TV! Sementara kita di sini sudah mulai malas nonton TV dan lebih hobi bermain gadget.

Kehidupan mereka tenteram di pedalaman sana tanpa diterjang banjir informasi hoax. Cukup tanam singkong saja sudah bisa makan. Nah, kita di sini, tidak makan Fitsa Hats sudah merasa sebagai orang paling menderita sedunia. Cukup punya dua pasang baju saja mereka sudah senang, karena mereka belum tahu berjuta model fashion yang harus dieksplorasi demi menemukan padanan yang menggambarkan citra diri. Sementara kita di sini masih terus merengek kepada orangtua di setiap pergantian fashion demi pengakuan manusia ter-update dan tergaul.

Yang menjadi masalah, bagaimana agar mereka bukan hidup hanya sekedar untuk makan saja tapi menjadi sebaik-baiknya manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Singkatnya memajukan kehidupan mereka sehingga mereka bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan masyarakat perkotaan. Karena membangun bangsa itu harus menyeluruh, bukan tebang pilih. Mereka ini pejuang kehidupan yang tidak manja. Yang hanya modal makan singkong tapi mampu menantang badai dan matahari setiap harinya sehingga jika mereka difasilitasi, mereka berpotensi meroket dan mengharumkan nama bangsa. Nah, kita ini yang makan mie instan yang beaneka rasa kuliner nusantara malah semakin hari makin loyo. Jalan kaki untuk beli Sari Roti saja sudah mulai sembunyi-sembunyi. Malu katanya. Apa kata dunia?

Zaman sekarang sudah tidak sama dengan zaman Orde Baru, Bro and Sis. Beda jauuuuhhh. Pemerintahan sekarang terbuka dengan kritik, saran dan masukan. Mengapa tidak kalian ajukan saja surat agar dapat diundang ke istana untuk menyampaikan gagasan yang brilian? Belum lagi ini sudah zamannya media sosial. Kenapa kalian tidak menggunakan handphone pintar untuk bersuara?

Mahasiswa oh mahasiswa. Tidak ada yang salah dengan menyuarakan aspirasi. Tapi lihat-lihat dulu permasalahannya. Jangan setiap ada isu, protes pemerintah. Mahasiswa sebagai kaum terdidik seharusnya banyak tabayun. Dan menjadi pribadi yang merdeka dan idealis. Jika mahasiswa terus menerus mengalami kemunduran, siap-siap kalian digeser oleh mereka dari pedalaman. Ingatlah, perubahan cepat sekali bergerak, tidak akan pernah menunggu kalian siap. Jika kalian masih terus-menerus mengurusi hal remeh temeh, siap-siap kalian menjadi kaum terbelakang.

Salam perubahan



Source link