Filosofi Marah


Bingungkah dengan Marah?

Kulihat anak kecil menangis

Merengek kena marah

Kulihat orang besar memarahi

Peduli dan mencintai

Kulihat anak kecil marah

Menuntut

Kulihat orang besar

Sabar dan tegar

Cintanya tidak padam atau pudar

 

Kuseruput kopi di beranda rumahku. Kududuki kursi ukir itu sambil kudengar suara kertas gosok yang berjalan-jalan pada kayu. Sinar pagi memancarkan pesonanya. Membiusku. Aku melamun tentang masa kecilku. Ayahku memarahiku. Ibuku memarahiku. Aku pun marah. Sekarang aku paham. Kopi yang kuseruput itu adalah buatan ibuku. Kursi ukir itu adalah buatan ayahku dan suara yang kudengar itu adalah suara yang tidak asing lagi ditelingaku, sejak kecil aku terbiasa dengan suara itu. 

***

“Ayah, kenapa Yesus dikatakan bersalah oleh mereka dan Ia disalibkan di Bukit Golgota?” tanyaku.

“Padahal Ia kan baik,” imbuhku.

Ayahku lalu menyahut, “Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”

Aku pun bertanya lagi, “Apakah Yesus pernah marah?”

Kemudian ayahku menjawab, “Dia melakukan itu saat ada banyak orang berjualan di Bait Allah.”

Entah kapan aku pernah bercakap-cakap tentang hal itu dengan ayahku. Dia selalu menjawab pertanyaanku tanpa basa-basi. Hingga sekarang! Cerita yang aku ingat itu juga tidak pernah basi walaupun tahun telah berganti. Semua orang dekat dengan salah. Semua orang bisa marah.

Pagi ini aku membaca sebuah buku, katanya ini tentang Filsafat Timur. Buku berjudul Ilmu Jiwa Kramadangsa ini aku baca dengan sangat perlahan. Aku menikmati betul ajaran-ajaran dari Ki Ageng Suryomentaram tersebut.

“Pet,” teriak ibu dari dapur, menghentikanku sebelum aku sampai titik.

“Mie gorengnya sudah matang,” katanya.

“Oke Bos,” sahutku sambil bergegas dan meletakkan bukuku di atas meja.

Aku santap mie itu dengan beringasnya. Lapar melanda sejak semalam, aku tidak sempat makan malam. Lalu aku kembali pada kenyamanan kursi ukir itu. Tak kuhiraukan lagi buku itu, kekenyangan membuatku semakin nyaman untuk diam. Melihat burung-burung yang hinggap di dahan sambil berkicau rasanya lebih indah daripada memelototi huruf-huruf berjajar yang menguras energi itu.

Aku menjadi ingat tentang masa kuliah. Di kampusku yang masih rindang, sering kudengar burung-burung berkicau dan aku sering melihatnya dari dalam kelas. Burung-burung yang terbingkai oleh jendela kelas!

“Pet,” kudengar suara ayahku.

“Besok kamu pulang ke Jogja jam berapa?” tanyanya.

“Seperti biasanya, pukul 5 pagi,” jawabku.

“Pigura kayunya sudah jadi, jangan lupa dibawa.”

Setelah kusahut kata-katanya, aku kembali mengingat masa kuliah. Aku beberapa kali marah. Lebih jelasnya ketika sedang memimpin rapat untuk mengadakan lomba baca pusi antar SMA. Bagaimana mungkin aku tidak marah, semua berbicara sendiri-sendiri hingga kadang tidak saling mendengarkan. Lantas aku marah. Wajah jenakaku tak sanggup menutupi rasa marahku dari berpasang-pasang mata yang hadir di ruang rapat.

Sehabis rapat, salah seorang temanku berkata, “Belum dewasa? Kenapa harus marah?”

***

Sekarang aku bisa mengatakan bahwa saat itu aku memang harus marah. Teguran halus sudah pernah aku lakukan. Tidak semua marah adalah salah. Sang Pengajar Kasih pun pernah melakukannya di Bait Allah. Marahku bukan untuk memenuhi keinginan marahku. Marah memang ekspresi yang bisa keluar secara tiba-tiba. Namun bila marah berdasar kepentingan bersama, adakah salahnya? Ki Ageng Suryomentaram pun tidak melarangnya! Seandainya aku marah hanya untuk menunjukkan kemarahanku, pertanyakanlah itu.

Aku yakin waktu itu ayahku marah bukan untuk memenuhi marahnya. Begitu pula ibuku. Namun tidak dengan marahku, aku hanya ingin memenuhi marahku. Mereka marah karena ingin memedulikanku, menataku dan mencintaiku. Atas dasar itu!

Ah, waktu itu aku masih anak kecil. Melihat marah sebagai salah karena waktu aku marah tidak sama dengan marah yang ayah dan ibuku lakukan.

***

Kubayangkan perjalananku besok. Tidak sabar aku ingin segera membingkai gambar-gambarku dengan pigura kayu buatan ayahku. Perjalanan dengan kuda besi dari Malang menuju Jogja memakan waktu sekitar delapan jam. Waktu dimana aku biasanya berefleksi tentang hal-hal yang sudah aku lakukan.



Source link