Habib Rizieq Anggap Kriminalisasi Ulama Terjadi terhadap Dirinya


Foto: kompas.com

Terungkap sudah alasan sebenarnya Imam besar FPI Rizieq Shihab beserta tokoh-tokoh Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hari ini 11 Januari 2017. Ternyata selain membahas urusan NKRI, Habib Rizieq juga menyelipkan curhatannya yang merasa dikriminalisasi.

Untuk sekelas FPI dan GNPF MUI, tentu saja harus diberikan kehormatan yang sangat besar dalam sambutan dan penyampaian aspirasinya. Tidak tanggung-tanggung, dua Wakil Ketua DPR RI sekaligus yang mendengarkan aspirasi mereka Fahri Hamzah dan Fadli Zon serta Anggota Komisi III dari Partai Gerindra Muhammad Syafii. Oh iya, dua Wakil Ketua DPR ini bukannya yang bersama-sama dengan Habib Rizieq berorasi di atas mobil komando yang sama ya? Saya baru ingat.

Dalam pengaduan kepada DPR, Habib Rizieq dan tokoh-tokoh GNPF MUI ini merasa ada kriminalisasi dan tebang pilih dalam penegakan hukum di Republik ini. Berikut beberapa kutipan pernyataan Habib Rizieq.

“Singkat saja, yang saya laporkan (kepada DPR) adalah kriminalisasi ulama dan itu yang kami tidak terima. Kami minta peran dari DPR RI untuk bisa mengkomunikasikan persolan ini dalam rangka untuk penegakan hukum,” kata Rizieq di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 11 Januari 2017 yang dilansir kompas.com.

Di sisi lain, Fadli Zon berkata: “Bisa kami langsung menyampaikan pada pihak-pihak terkait, misalnya pemerintah atau instansi terkait maupun Komisi III.”

Izinkan ya untuk saya tertawa disini setelah membaca pernyataan Habib Rizieq hari ini. Geleng-geleng kepala dan sampai kram otot pipi dan rahang saya karena tertawa. Kalau meminjam istilahnya Bang Ruhut Sitompul, “Kodok Pak Jokowi tertawa” melihat akrobat politik dan pernyataan Anda di DPR hari ini.

Jika pelaporan terhadap dirinya ditindaklanjuti, dia katakan kriminalisasi ulama dan katanya itu tidak bisa mereka terima. Laporan Anda dan teman-teman Anda harus ditindaklanjuti oleh polisi dan hasil akhirnya harus memuaskan kehendak kalian, lalu laporan orang lain terhadap Anda dan teman-teman Anda disebut kriminalisasi ulama. Pertanyaan saya, kenapa harus membawa-bawa status ‘ulama’? Apakah semua ulama kebal hukum dan tidak akan pernah salah di hadapan hukum? Polisi bertindak berdasarkan bukti, bos! Bukan berdasarkan status ataupun kedudukan!

Saya pun lalu mengingat pernyataan Anda sendiri beberapa bulan lalu ketika menuntut proses hukum terhadap Ahok, ketika Anda menuding Presiden Jokowi melanggar konstitusi dengan melindungi dan membela penista agama (menurut Anda). Juga ketika Anda dan rekan-rekan Anda membawa poster-poster yang berisikan kata-kata yang sangat provokatif saat berdemo pada tanggal 4 November 2016 dan ketika Anda dan wakil-wakil Ketua DPR yang menerima Anda di DPR hari ini berorasi dengan kata-kata yang seenak perutnya saja. Semua karena Anda dan kelompok Anda merasa tersinggung dan agama kalian ternodai oleh perkataan Ahok.

Habib Rizieq, Anda pun kan sekarang dilaporkan atas dugaan penistaan agama yang sah diakui di Indonesia. Lalu sekarang saya ingin bertanya, jika laporan dugaan penistaan agama atas diri Anda tidak ditindaklanjuti, apakah boleh sebagian orang juga menggunakan istilah, memberikan tudingan, mengeluarkan kata-kata, dan melakukan demonstrasi besar-besaran seperti apa yang Anda dan rekan Anda lakukan? Apakah hanya perasaan Anda dan rekan-rekan Anda saja yang tidak boleh tersakiti sedangkan perasaan orang-orang yang melaporkan Anda boleh tersakiti? Jika menurut Anda semua ini kriminalisasi, berarti apa yang Anda lakukan terhadap Ahok juga kriminalisasi.

Jika penegak hukum di negeri juga menganggap semua laporan terhadap Anda adalah kriminalisasi, enak sekali hidup Anda, Bib! Sungguh saya iri (serius). Enak sekali ya bagi seorang Habib Rizieq FPI dan tokoh-tokoh GNPF MUI untuk membawa-bawa status pemuka agama untuk menyebut diri mereka telah dikriminalisasi atas semua laporan dugaan pelanggaran hukum terhadap mereka?

Saya harapkan Habib Rizieq tidak kebal hukum di negeri ini, sudah begitu banyak laporan terhadap dirinya dan semua bukti-bukti yang objektif pun sudah disertakan. Semoga Kepolisian Republik Indonesia dapat menegakkan marwahnya dan memberikan rasa keadilan juga kepada elemen-elemen masyarakat yang memberikan laporan terhadap Habib Rizieq.

Bagi yang tidak sadar atau tidak tahu, besok 12 Januari 2017 adalah panggilan kedua dari Polda Jawa Barat kepada Habib Rizieq sebagai saksi dalam laporan dugaaan penodaan terhadap lambang dan dasar negara terhadapnya. Panggilan pertama pada 5 Januari 2017 beliau tidak datang dengan alasan sakit. Jika tidak datang lagi besok (pastinya datang lah ya), maka Kapolri pun bilang bisa saja dijemput paksa.

Untuk referensi pembaca, berikut di bawah ini adalah beberapa laporan terhadap Rizieq Shihab yang saya ketahui:

  1. Dugaan penistaan budaya (menyangkut “sampurasun” dipelesetkan menjadi “campur racun”) yang dilaporkan oleh Aliansi Masyarakat Sunda melalui Angkatan Muda Siliwangi. Hari ini ratusan orang melakukan unjuk rasa di depan markas Pola Jawa Barat untuk menuntut berjalannya kasus ini.
  2. Dugaan penistaan agama (menyangkut pernyataan tentang “Kalau Tuhan beranak,……”) yang dilaporkan oleh PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan mungkin ada yang lainnya.
  3. Dugaan penyebaran ujaran kebencian yang menyinggung suku, agama ras, antarkelompok (SARA) mengenai pernyataannya tentang gambar palu arit dalam pecahan uang rupiah. Dilaporkan oleh Jaringan Intelektual Muda Anti Fitnah (JIMAF), Solidaritas Merah Putih, dan mungkin ada yang lainnya.
  4. Dugaan penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila menyangkut “Pancasila…..” yang dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri.

 



Source link