Sang Habib Menebar, Berbuah (aduan) dan Memanen (panggilan).


Sumber foto: CNN Indonesia.

Habib Rizieq bisa dibilang merupakan salah satu tokoh yang mewarnai wajah Indonesia. Meski yang dibuatnya cenderung untuk menghilangkan warna lain dan mengganti dengan warnanya sendiri yang kaku. Namun, dia tetap konsisten melakukan hal itu.

Menjelang tiga bulan terakhir di tahun 2016, karena usahanya untuk menggusur Gubernur Ahok dari kursinya, sang Habib tampil menjadi ‘Top News Maker’ saat itu. Apalagi, kesempatan emas muncul, saat Ahok melakukan blunder tentang Surah Al-Maidah di Kepulauan Seribu. Lewat organisasi ‘adhoc’ GNPF-MUI, yang dibentuk dengan beberapa tokoh yang sepaham, dia semakin menggebu untuk menggusur Ahok. Gelaran aksi bela Islam I, II dan III, yang cukup spektakuler, membuat namanya kian memuncak.

Sang Habib Menebar dan Berbuah(aduan).

Saat berada di puncak, sang Habib seperti menjadi lupa diri. Merasa ‘jumawa’, sehingga terus saja menebar benih-benih keresahan dan kebencian melalui lontaran kata-kata dari mulutnya. Dia seperti kehilangan kendali dan tidak sadar diri bahwa apa yang diucapkan bisa membuat orang lain terhina dan tersakiti, bahkan bisa mengoyak keharmonisan masyarakat dan kebhinekaan bangsa.

Akhirnya, benih yang ditebar sang Habib tumbuh dan berbuah ‘aduan’. Ini yang membuat rangkaian cerita berikutnya menjadi menarik.

Bermula dari Sukmawati Soekarnoputri, yang pada tanggal 27 Oktober 2016, melaporkan Habib Rizieq ke Bareskrim Polri karena dianggap telah melecehkan Pancasila saat Tabligh Akbar FPI. Sang Habib diminta untuk mengklarifikasi video yang berisi ceramahnya, dimana dia  mengatakan bahwa  ‘Pancasila Soekarno, Ketuhanan ada di Pantat sedangkan Pancasila Piagam Jakarta, Ketuhanan ada di Kepala’.

Setelah pelaporan ‘Pancasila ada di pantat’. Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 25 Desember, Sang Habib dalam sebuah ceramah menebar kata olok-olok, “kalau Tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?”. Tebaran olok-olok tersebut berbuah aduan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) yang merasa terhina dan tersakiti. Berbekal rekaman video yang dibawa, mereka  melaporkan Sang Imam Besar atas dugaan penistaan agama Kristen.

Rupa-rupanya, lontaran kata-kata sang Habib dalam berbagai ceramah, banyak menebar benih-benih ‘ketidakpatutan’, yang akhirnya mendorong beberapa kelompok masyarakat lain melaporkannya ke pihak yang berwajib. Dua kelompok mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam ‘Student Peace Institute’ dan  Forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama (Rumah Pelita), secara terpisah melaporkan sang Habib. Mereka menuduh sang Habib menyebarkan ujaran-ujaran kebencian di depan public, yang berpotensi memecah belah kerukunan beragama, persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, serta memecah belah Islam sendiri.

Terakhir, sang Habib yang masih merasa ‘jumawa’, melontarkan fitnahannya dalam sebuah ceramah, dengan mengatakan bahwa terdapat logo ‘palu arit’ yang dikonotasikan sebagai simbol PKI pada uang kertas yang beredar. Tebaran fitnahan ini, berbuah aduan ke Polda Metro Jaya oleh kelompok masyarakat yang menamakan diri, Jaringan Muda Anti Fitnah (JIMAF).

Seementara tuuduhan Habib sendiri di bantah oleh Bank Indonesia (BI).  “Gambar yang dipersepsikan oleh sebagian pihak sebagai simbol palu dan arit (lambag komunis) merupakan logo Bank Indonesia yang dipotong secara diagonal, sehingga membentuk ornamen yang tidak beraturan. Gambar tersebut merupakan gambar saling isi (rectoverso), yang merupakan bagian dari unsur pengaman uang rupiah,” ujar Gubernur BI melalui siaran pers, Selasa (10/1).

Bagaimana reaksi Habib Rizieq? Jelas dia sangat konsisten dengan sikapnya. Merasa tidak bersalah. Oleh sebab itu, sang Habib dengan FPInya menuduh balik dengan mengatakan bahwa semua laporan tersebut semata-mata untuk pengalihan issue kasus penistaan agama oleh Ahok.

Sebagai reaksi, dia akan menuntut balik si pelapor. Bahkan untuk kasus Logo ‘palu-arit’, sang Habib malah menuding  Polda DKI membuat LSM siluman untuk melaporkan dirinya. Selain itu, dia juga berencana melaporkan Gubernur BI dan Menteri Keuangan ke Kepolisian terkait uang kertas ‘berlogo palu-arit’. Sang Habib terus mengelak dan melawan.

Panenan Buat Habib.

Namun begitu, tetap saja dari beberapa buah ‘aduan’ tersebut, sang Habib sudah mulai panen. Panenan pertama berupa panggilan polisi untuk kasus penghinaan Pancasila. “Yang bersangkutan (Rizieq Shihab) sedang diproses hukum di Jawa Barat. Dipanggil tanggal 5 Januari kemarin, tapi tidak hadir dengan alasan sakit. Dipanggil kembali tanggal 12 Januari 2017,” ujar Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian . Selasa (9/1/2017).

“Kalau hadir, akan dilakukan pemeriksaan. Kalau tidak hadir, akan dilakukan sesuai hukum KUHAP, yaitu surat perintah membawa atau dijemput paksa,” Tito melanjutkan.

Menarik untuk terus mengikuti kisah lanjutan Sang Habib ini. Apakah benar dia yang telah di dapuk oleh sebagian umat sebagai “Imam Besar Umat Islam Indonesia’, akan hadir di Polda Jabar sebagai terperiksa dengan iringan ribuan laskarnya?

Sebagai penulis, saya akan sabar menunggu guliran cerita Sang Habib beserta panenan berikutnya, sebagaimana  saya sabar menunggu datangnya ‘deleperi Fitsa Hats’. Sekian.

 



Source link