Setelah Campur Racun, Pantat Gila dan Uang PKI, Apalagi Habib Rizieq ?


“Larilah temanku, ke dalam kesendirianmu ! Sebab kulihat Kau dipekakan oleh suara-suara bising dari orang-orang besar dan disengat di sana-sini oleh orang-orang kecil” (Nietzsche)

Membicarakan Habib Rizieq adalah membicarakan salah satu manusia paling kontroversial di tanah air. Kontroversialnya Sang Habib tidak lain diciptakan oleh kata-kata dan  tindak-tanduknya sendiri.

Membicarakan Sang Habib tidak bisa dilepaskan dari Front Pembela Islam (FPI), Ormas yang dibesarkannya. ormas yang sama-sama kontroversialnya. Maka, penobatan dirinya sebagai “Man of the Year” beberapa waktu lalu tidaklah terlalu keliru. Sejatinya, sudut pandang atau perspektif mengenai sosok Sang Habib berada dalam dua titik ekstrem yang saling diametral.

Di ekstrem pertama ada kelompok yang memujanya, bahkan belakangan menganggapnya layak mendapatkan predikat “Imam Besar Umat Islam Indonesia.” Di ekstrem yang lain, Sang Habib adalah penyebab atau biang masalah itu sendiri. Dalam banyak kasus, Ia menerobos rambu dan sering lancang mengomentari beragam hal, dari mulai salam Sunda sampurasun yang ia plesetkan menjadi “campur racun.” Penyebutan Pancasila menjadi “Panca Gila dan Pantat Cina.” Tuhan anak, siapa bidannya ? Dan mata uang rupiah pecahan baru yang menurutnya ada logo Palu Arit, lambang Partai Komunis yang sudah wafat setengah abad lebih.

Masalahnya ia tidak sedang berbicara sendirian di tengah gurun. Di belakangnya ada deretan umat atau pengikutnya (follower) yang mendengar. Dan mereka tak sekadar mendengar. Mereka sedang mendengarkan pemimpinnya bicara. Dan terkadang, para pengikut hanya meng-iyakan saja apa kata-kata pemimpinnya tanpa koreksi sedikitpun.

Menurut Josept C.Rost (1995) mendefinisikan pengikut sebagai berikut : “Follower as a concept, connoted a group who were part of the sweaty masses and therefore separated from elites, not able to act dilligently without guidance and control of others, willing to let other people take control their lives and unproductive unless directed by others.”

Poin dari pernyataan ini adalah “not able to act dilligently without guidance and control of others, willing to let other people take control their lives and unproductive unless directed by others.” Dalam bahasa singkatnya, pengikut itu seperti “kerbau dicocok hidung.” Mengikuti saja apa kata tuan atau majikannya.

Robert Kelley (1992) dalam bukunya berjudul The Power Of Followership mengemukakan teorinya mengenai gaya kepengikutan dan menggolongkannya menjadi 5 jenis. Keempat jenisnya tidak akan penulis bahas karena tidak relevan dengan tulisan ini. Yang justru dibahas adalah gaya kepengikutan nomor buncit. Yakni, Confromist Follower (pengikut konformis). Ciri pengikut konformis berpikir tidak kritis tapi sebaliknya ikut sertanya dalam pekerjaan sangat aktif. Ia mempunyai karakteristik Exemplarry Follower yaitu aktif melaksanakan tugas dan dan karakteristik Pasive Follower yaitu berpikir tidak kritis. Ia melaksanakan tugas tanpa kritik dan aktif melaksanakannya. Oleh karena itu sering disebut yes men  atau dalam bahasa Jawanya Pejah Gesang Ndrek.

Nah, tipe-tipe pengikut agama, termasuk di dalamnya anggota Sang Habib memiliki tipikal seperti ini. Mereka tidak pernah kritis terhadap pemimpinnya. Mereka akan patuh dan manut setengah mati dan menganggap apa yang dikatakan sang pemimpin adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebuah aksioma.

Sekarang saatnya menyapa Sang Habib, tingkah laku kontroversial apalagi yang sedang kau rencanakan Ya Habib ? Sudahlah, cukup, hentikan semua kegaduhan ini. Kami sesungguhnya rindu, rindu ketika kamu tidak berbuat kontroversi. Kami rindu ketika kamu diam.

 



Source link