Tangisan “Culas” Ala Rachmawati Soekarnoputri



Jelas ada motif terselubung dibalik isak tangisnya itu. Dalam tangisan pertama, Rachmawati ingin menunjukkan kepada seluruh warga DKI Jakarta betapa semena-menanya Ahok yang menggusur rakyat miskin. Motif terselubungnya agar warga DKI Jakarta tidak memilih Ahok menjadi Gubernur DKI.

Dalam tangisan yang kedua, Rachmawati berharap dengan mencucurkan airmatanya, maka Ahok akan dijebloskan ke penjara karena dianggap telah menista agama Islam. Jika sandiwara itu berhasil, maka tujuan besarnya juga tentu saja pasti akan berhasil, yaitu Ahok gagal jadi Gubernur DKI Jakarta.

Namun sayang, kedua tangisannya itu gagal total alias tidak berhasil karena sampai detik ini Ahok masih mampu tersenyum lebar melambaikan tangannya kepada para pendukungnya yang berjubel dengan salam dua jari.

Pada tangisannya yang ketiga, Rachmawati berharap dengan tumpahnya airmatanya di hadapan Yang Mulia Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan para wakil rakyat lainnya, maka Kepolisian akan segera menghentikan kasusnya dimana ia telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan makar dengan menunggangi Aksi Bela Islam 212.

Apakah upayanya dengan menumpahkan airmatanya di Senayan itu akan berhasil? Tentu saja tidak. Karena proses hukum, mulai dari proses sidik, lidik, sampai pelimpahan berkas ke pengadilan dan vonis Pengadilan tidak boleh diintervensi oleh siapapun, termasuk Presiden  maupun para wakil rakyat yang duduk manis di Senayan itu karena hukum adalah panglima di negeri ini.

Bukti dan Fakta Sahih Rachmawati Soekarnoputri Ingin Melengserkan Jokowi

Sebagai rakyat jelata yang mengamati dunia persilatan perpolitikan regional dalam negeri, sebenarnya tidak perlu menjadi intelijen tangguh untuk memahami pola permufakatan jahat dan dugaan makar yang dilakukan oleh Rachmawati Soekarnoputri dalam upayanya untuk melengserkan Jokowi dari kursi orang nomor satu di negeri ini sejak terpilih secara sah dan konstitusional sebagai Presiden RI.

Pertama, sejak Jokowi terpilih menjadi Presiden RI, sepak terjang Rachmawati Soekarnoputri untuk melengserkan Jokowi sudah bukan hal yang baru lagi. Semua orang juga tahu itu. Menginjak 100 hari pemerintahan Jokowi, Rachmawati sudah teriak bahwa bangsa ini adalah bangsa kuli yang hanya terpesona pada kamuflase pencitraan Jokowi semata.

“Kita semua merasakan kok. Sejak pemilihan Presiden saya sudah bilang jangan Jokowi,” ujar Rachmawati dalam  acara penghargaan The Star of Soekarno di Hotel Borobudur, Jakarta, yang diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 27 September 2015 yang silam.

Rachmawati minta agar Jokowi tidak dilantik, karena menurutnya dengan melantik Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia justru hanya akan mempermalukan bangsa Indonesia.  Namun setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden RI, manuvet Rachmawati pun berubah dengan menginginkan agar Jokowi segera diganti dengan melakukan mosi tidak percaya.

Kedua, Rachmawati menyebutkan bahwa hasil Pilpres 2014 dan kemenangan Jokowi sebagai Presiden RI pilihan rakyat merupakan skenario dan kongkalingkong pesanan asing.

“Hasil pilpres sudah dikooptasi dengan kepentingan Kapitalis. Data pemilu diambil bukan dari BPS, tapi dari konsultan asing sehingga ada pembengkakan, kenapa bangsa menutup kecurangan itu,” ujar Rachmawati dengan yakinnya.

Dengan berbekal keyakinannya yang sumir itu, Rachmawati menyerukan agar Jokowi segera menyerahkan kembali mandat kepada rakyat karena menurutnya pemerintahan Jokowi adalah rezim yang bekerja demi kapitalis asing dan aseng,  menjadi satelit di bawah negara adi kuasa, serta membuka pintu selebar-lebar lnya agar kapitalis bisa masuk dengan bebas menguasai negeri ini.

“Masihkah Indonesia Merdeka? Indonesia masuk dalam abad proxy war, dan diperlukan pemimpin revolusi Multi-Dimensional untuk melawan penjajahan mutakhir. Ayo selamatkan NKRI!”, demikian pekik Rachmawati.

Ketiga, setelah masa dua tahun pemerintahan Jokowi, menurut Rachmawati, orientasi Jokowi dalam kapasitasnya sebagai Presiden RI tidak jelas akan dibawa kemana bangsa ini. Menurutnya, selama hampir dua tahun Jokowi menjadi Presiden telah banyak terjadi kerusakan-kerusakan yang dialami oleh bangsa Indonesia, mulai dari masalah ekonomi, politik, hingga masalah hukum.

“Hutang sekarang sudah mencapai Rp 4.000 triliun lebih. Kita terancam defisit 3 persen. Yang memprihatinkan kita, bahkan pemerintah berupaya seolah-olah mengelabui kita dengan melebarkan defisit 5 persen. Itu sudah cukup untuk impeachment,” ujar Rachmawati berapi-api.

Keempat, Rachmawati mengatakan bahwa Presiden Jokowi sangat pandai bersilat lidah membohongi rakyat Indonesia. Menurutnya, Jokowi tidak bisa dipercaya karena kebohongan demi kebohongan sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya Jokowi. Ia mengajak rakyat Indonesia agar segera melek dan sadar dan jangan mau terus dibohongi oleh Jokowi.

“Bohong ditutup dengan kebohongan, itulah jokowi! Apakah kita masih mau dibohongi?” Ujar Rachmawati.

Rachnawati pun menantang Presiden Jokowi untuk berhenti berbohong dan mengingatkan rakyat agar segera mengganti Jokowi sebagai Presiden karena Jokowi dianggap sebagai masalah utama bangsa Indonesia. Menurut Rachmawati, di tangan Presiden Jokowi, bangsa dan negara Indonesia tidak tambah maju, melainkan akan lebih hancur.

“Dia bonekanya boneka, contoh kongkrit sudah jelas, dia tak bisa menyelesaikan Indonesia, karena dia sebagai Froksi Kapitalis,” kata Rachmawati dalam acara Haul Bung Karno ke 45 di kediamannya di Jakarta Selatan, pada hari Minggu tanggal 20 Juni 2016 yang lalu.

Kelima, ketika menghadiri acara penghargaan The Star of Soekarno  di Hotel Borobudur, Rachmawati menuding Jokowi telah gagal dalam menjaga kondisi perekonomian Indonesia, dan Jokowi harus segera diganti.

“Ganti pemerintahan. Pemerintahan ini harus diganti, harusnya bisa dengan kesadaran rakyat,” ujar Rachmawati berapi-api.

Akibat dari upaya-upayanya untuk melengserkan pemerintahan yang sah secara konstitusional, termasuk upayanya menduduki gedung DPR RI dalam aksi masa 212, Rachmawati kini pusing tujuh keliling, hidupnya menderita lahir dan bathin karena selain ditetapkan sebagai tersangka pelaku makar, pun juga dipanggil terus-menerus oleh pihak Kepolisian untuk dimintai keterangan.

Berkaca dari kasusnya Rachmawati, ini merupakan pelajaran yang berharga bagi para politisi busuk di negeri ini agar dapat membedakan mana kritik yang membangun dan mana maha karya permufakatan jahat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dan legitimasi sesuai Undang-undang yang berlaku.

Kalau bisa hidup aman dan nyaman, mengapa harus cari susah? Sebab ada tertulis hukum tabur tuai, barangsiapa menabur angin, maka ia akan menuai badai. Akibat dari ulahnya Rachmawati yang terus menerus menabur angin menggerogoti peemrintahan Jokowi, maka kini ia menuai badai yang memporak-porandakan kenyamanan hidupnya. Orang bijak bilang, hidup ini hanya sekali, jangan bikin diri susah.

Kira-kira begitu.



Source link